Jakarta - Pekan lalu Jose Mourinho meraih kemenangan pertamanya di Seri A dengan dibumbui kontroversi. Akankah Mourinho melanjutkan efek kemenangannya pekan ini?
Mourinho mengawali langkahnya di Seri A dengan hasil yang tak bisa dibilang cemerlang. Menghadapi Sampdoria, Nerazzurri hanya bermain imbang 1-1. Sebagai pelatih yang punya reputasi besar, The Special One tentunya diharapkan meraih kemenangan.
Pada pekan kedua, kemenangan itu akhirnya datang. Adalah Catania yang menjadi klub pertama yang ditundukkan Inter di Seri A musim ini. La Beneamata menang dengan skor tipis 2-1.
Nah, di sinilah reputasi Mourinho lainnya, yakni gemar mengeluarkan komentar panas, muncul. Komentarnya yang mengatakan Giacomo Tedesco berakting--yang mengakibatkan dikartu merahnya Sulley Muntari--dan sesumbarnya bahwa Inter seharusnya bisa menang hingga 5-1, membuatnya terlibat cekcok dengan petinggi Catania, Pietro Lo Monaco.
Lo Monaco mengatakan bahwa mulut Mourinho selayaknya disumpal. Sementara Mourinho membalas dengan mengatakan ia tak pernah mengenal Lo Monaco dan bahwa bos Catania itu hanya mencari sensasi belaka demi nampang di halaman depan koran.
Well, memang begitulah Mourinho. Ia sudah terbiasa terlibat adu mulut dengan pihak lain--atau pelatih klub lain--sejak melatih Chelsea di Liga Inggris. Tetapi bagi Seri A, ini merupakan sebuah efek baru di dalam tubuh mereka.
Namun, di balik mulut besarnya, ia juga sukses membuktikan ia bukanlah pelatih sembarangan. Siapa tokoh paling penting di balik bangkitnya The Blues sebagai raksasa Premier League? Jawabnya jelas Mourinho.
Jadi, jika melihat reputasi Mourinho, wajar rasanya jika Interisti berharap efek kemenangan yang sudah diraih atas Catania pekan lalu berlanjut pekan ini. Torino yang akan menjadi lawan sendiri punya rekor tak bagus jika melawan Inter. Il Granata selalu menelan kekalahan dalam enam pertemuan terakhirnya dengan La Beneamata. Mereka kebobolan 14 gol dan hanya mencetak satu gol ke gawang Inter.
Di atas kertas Inter relatif tak akan kesulitan mengatasi Torino. Dengan statusnya sebagai "Si Spesial", Mourinho seharusnya mampu melanjutkan tren kemenangannya di Seri A. Bisa?
Milan Berburu Kemenangan Pertama
Sementara Inter berkonsentrasi untuk melanjutkan kemenangan mereka, sang rival sekota, AC Milan, masih berkutat dengan "bagaimana caranya meraih kemenangan pertama". Setelah kalah di dua laga perdana, mereka kini akan menghadapi Lazio, sang pemimpin klasemen yang penampilannya tengah konsisten.
Bagi Rossoneri ini bisa jadi momen penghentian hasil buruk, sementara bagi Biancoceleste ini bisa menjadi ajang pembuktian bahwa hasil yang mereka raih bukanlah pembuktian. Milan mendapat suntikan moral lebih karena mereka baru saja mengalahkan FC Zurich 3-1 di Piala UEFA.
Yang juga tengah mencari kemenangan perdana adalah AS Roma. Runner up Seri A musim lalu itu kini terdampar di posisi 16 dengan rekor satu kali imbang dan satu kali kalah. Makin menyesakkan karena di Liga Champions midweek lalu, mereka juga takluk di tangan tim debutan asal Rumania, CFR Cluj.
Kali ini Roma akan menghadapi Reggina yang dalam dua laga perdananya selalu menelan kekalahan. Pertanda Roma bakal meraih kemenangan pertamanya? Kita lihat saja nanti.
Dua penghuni empat besar musim lalu lainnya, Juventus dan Fiorentina, akan menghadapi lawan yang memiliki keadaan berbeda. Juve akan meladeni Cagliari yang merupakan penghuni dasar klasemen saat ini. Sementara La Viola, yang juga belum pernah meraih kemenangan, akan menghadapi Bologna yang tak bisa ditebak. Setelah sukses menekuk Milan di pekan pertama, Bologna malah kalah 0-1 dari Atalanta di pekan kedua.
Bianconeri tengah menjajaki jalannya kembali sebagai tim besar. Konsistensi permainan dengan tetap mempertahankan tren kemenangan telah mereka tunjukkan ketika menundukkan Zenit St Petersburg di Liga Champions.
Sedangkan Fiorentina sebenarnya tak tampil terlalu jelek. Mereka punya Alberto Gilardino yang telah menemukan ketajamannya kembali--melawan Lyon di Liga Champions, ia mencetak dua gol. Namun, problem di lini belakang akibat absennya bek tengah andalan mereka, Alessandro Gamberini, harus segera dicari solusinya oleh pelatih Cesare Prandelli. (source)
Mourinho mengawali langkahnya di Seri A dengan hasil yang tak bisa dibilang cemerlang. Menghadapi Sampdoria, Nerazzurri hanya bermain imbang 1-1. Sebagai pelatih yang punya reputasi besar, The Special One tentunya diharapkan meraih kemenangan.
Pada pekan kedua, kemenangan itu akhirnya datang. Adalah Catania yang menjadi klub pertama yang ditundukkan Inter di Seri A musim ini. La Beneamata menang dengan skor tipis 2-1.
Nah, di sinilah reputasi Mourinho lainnya, yakni gemar mengeluarkan komentar panas, muncul. Komentarnya yang mengatakan Giacomo Tedesco berakting--yang mengakibatkan dikartu merahnya Sulley Muntari--dan sesumbarnya bahwa Inter seharusnya bisa menang hingga 5-1, membuatnya terlibat cekcok dengan petinggi Catania, Pietro Lo Monaco.
Lo Monaco mengatakan bahwa mulut Mourinho selayaknya disumpal. Sementara Mourinho membalas dengan mengatakan ia tak pernah mengenal Lo Monaco dan bahwa bos Catania itu hanya mencari sensasi belaka demi nampang di halaman depan koran.
Well, memang begitulah Mourinho. Ia sudah terbiasa terlibat adu mulut dengan pihak lain--atau pelatih klub lain--sejak melatih Chelsea di Liga Inggris. Tetapi bagi Seri A, ini merupakan sebuah efek baru di dalam tubuh mereka.
Namun, di balik mulut besarnya, ia juga sukses membuktikan ia bukanlah pelatih sembarangan. Siapa tokoh paling penting di balik bangkitnya The Blues sebagai raksasa Premier League? Jawabnya jelas Mourinho.
Jadi, jika melihat reputasi Mourinho, wajar rasanya jika Interisti berharap efek kemenangan yang sudah diraih atas Catania pekan lalu berlanjut pekan ini. Torino yang akan menjadi lawan sendiri punya rekor tak bagus jika melawan Inter. Il Granata selalu menelan kekalahan dalam enam pertemuan terakhirnya dengan La Beneamata. Mereka kebobolan 14 gol dan hanya mencetak satu gol ke gawang Inter.
Di atas kertas Inter relatif tak akan kesulitan mengatasi Torino. Dengan statusnya sebagai "Si Spesial", Mourinho seharusnya mampu melanjutkan tren kemenangannya di Seri A. Bisa?
Milan Berburu Kemenangan Pertama
Sementara Inter berkonsentrasi untuk melanjutkan kemenangan mereka, sang rival sekota, AC Milan, masih berkutat dengan "bagaimana caranya meraih kemenangan pertama". Setelah kalah di dua laga perdana, mereka kini akan menghadapi Lazio, sang pemimpin klasemen yang penampilannya tengah konsisten.
Bagi Rossoneri ini bisa jadi momen penghentian hasil buruk, sementara bagi Biancoceleste ini bisa menjadi ajang pembuktian bahwa hasil yang mereka raih bukanlah pembuktian. Milan mendapat suntikan moral lebih karena mereka baru saja mengalahkan FC Zurich 3-1 di Piala UEFA.
Yang juga tengah mencari kemenangan perdana adalah AS Roma. Runner up Seri A musim lalu itu kini terdampar di posisi 16 dengan rekor satu kali imbang dan satu kali kalah. Makin menyesakkan karena di Liga Champions midweek lalu, mereka juga takluk di tangan tim debutan asal Rumania, CFR Cluj.
Kali ini Roma akan menghadapi Reggina yang dalam dua laga perdananya selalu menelan kekalahan. Pertanda Roma bakal meraih kemenangan pertamanya? Kita lihat saja nanti.
Dua penghuni empat besar musim lalu lainnya, Juventus dan Fiorentina, akan menghadapi lawan yang memiliki keadaan berbeda. Juve akan meladeni Cagliari yang merupakan penghuni dasar klasemen saat ini. Sementara La Viola, yang juga belum pernah meraih kemenangan, akan menghadapi Bologna yang tak bisa ditebak. Setelah sukses menekuk Milan di pekan pertama, Bologna malah kalah 0-1 dari Atalanta di pekan kedua.
Bianconeri tengah menjajaki jalannya kembali sebagai tim besar. Konsistensi permainan dengan tetap mempertahankan tren kemenangan telah mereka tunjukkan ketika menundukkan Zenit St Petersburg di Liga Champions.
Sedangkan Fiorentina sebenarnya tak tampil terlalu jelek. Mereka punya Alberto Gilardino yang telah menemukan ketajamannya kembali--melawan Lyon di Liga Champions, ia mencetak dua gol. Namun, problem di lini belakang akibat absennya bek tengah andalan mereka, Alessandro Gamberini, harus segera dicari solusinya oleh pelatih Cesare Prandelli. (source)


